Kita adalah orang Kecil dengan Karya yang Besar




Ada sebuah kalimat yang saya tulis d notes beberapa waktu lalu, entah dapat darimana saya sendiri juga lupa, intinya gini "Tidak perlu jadi orang besar untuk menunjukkan karya besar, namun kita mulai sedari jadi orang kecil dengan membentuk Karya yang besar". Nah ketika pintu rumah sudah terbuka, sepatu sudah dilepas, dan di depan mata ada "musuh" terbesar kita semua: Kasur, apa yang kita fikirkan? self-reward pasti kan ? tidur kan ?

Karena di fikiran kita, setelah seharian berdiri di depan kelas, berbicara dengan puluhan karakter murid, dan menyelesaikan tumpukan tugas administrasi, tarikan gravitasi kasur rasanya naik sepuluh kali lipat. Di momen inilah seringkali muncul perdebatan batin. Satu sisi bilang, "Ah, istirahatlah, kamu layak mendapatkannya," tapi sisi lain berbisik, "Waktu itu seperti pedang, kalau tidak dipakai untuk kebaikan, ia akan memotongmu dengan kesia-siaan."

nah sebagai tips nih, jangan langsung ambil action besar besaran dulu, pelan-pelan ritmenya dirubah,karena menurut saya pribadi kesalahan terbesar adalah langsung mencoba produktif tepat setelah pulang sekolah. Tubuh dan pikiran kita butuh "saklar" pemutus. Cobalah buat ritual transisi sederhana. Bagi saya biasanya sekedar duduk dulu, main dulu sebentar dengan anak, nah yang sekarang ini saya coba untuk merakit puzle hewan dan kendaraan dengan anak, singkirkan dulu deh gadgetnya ya, sambil kadang minum air hangat, itu sudah melegakan banget loh ternyata. Ritual ini memberi sinyal ke otak: "Tugas formal sudah selesai, sekarang waktunya waktu luang yang berkualitas."

Jangan bayangkan produktif itu harus langsung menulis satu buku atau mencangkul seluruh kebun dalam satu sore. Itu menakutkan! Mulailah dengan target yang "lucu" saking kecilnya:

Misalnya dengan : Cukup tulis satu paragraf saja di blog. Cukup baca dua lembar buku saja. Cukup siram pot tanaman di halaman depan, atau biasanya kalau sore hari setelah kerja itu ada aja ide yang memercik, nah itu biasanya saya coret coret dulu tuh, setidaknya itu memberi sinyal ke otak kita bahwa masih on dan harus tetep on terus, jikalau nanti adakalanya buntu, hasil coret coretan itu bermanfaat banget. Karena biasanya, yang paling berat adalah memulai. Begitu tangan sudah bergerak, rasa malas itu akan menguap dengan sendirinya.

Nah yang tidak kalah juga nih, kita sering mengeluh tidak punya waktu, padahal mungkin kita hanya kehilangan fokus. Waktu antara jam 16.00 hingga malam adalah waktu yang sangat krusial. Jika hanya kita habiskan untuk scrolling media sosial tanpa arah, rasa lelahnya tetap ada, tapi manfaatnya nol besar.

Ingatlah, setiap detik yang kita miliki adalah amanah. Memilih untuk tetap bergerak, tetap berpikir, dan tetap berkarya adalah cara kita bersyukur atas nikmat usia. 

Bekerja dari jam 07.00 sampai 15.30 mungkin adalah kewajiban profesional kita. Tapi, apa yang kita lakukan setelah jam itu adalah refleksi dari siapa kita sebenarnya. Apakah kita hanya ingin menjadi orang yang "selesai" saat jam kerja usai, atau kita ingin menjadi pribadi yang terus mengalirkan manfaat hingga waktu tidur tiba?

Rebahan memang nikmat, tapi melihat ada satu tulisan yang selesai atau satu tanaman yang tumbuh subur karena tangan kita sendiri, memberikan kepuasan yang jauh lebih mewah daripada sekadar tidur sore. Jangan biarkan monster malas menang sore ini. Apa satu hal kecil yang ingin kamu selesaikan sebelum matahari terbenam? Tulis di kolom komentar ya, biar kita saling menyemangati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar