Teng-Go by Me : Menemukan Makna di Antara Rutinitas
Pukul 15.30. Bel sekolah berbunyi, menandakan jam kerja telah usai. Namun, seringkali saat duduk di atas motor dalam perjalanan pulang, dalam dekapan hembus angin sore serta sengat mentari itu, sebuah tanya tiba-tiba muncul dan mengetuk pintu kesadaran: "Apakah hidup saya akan terus begini?"
Bangun subuh, berangkat pagi-pagi, berkutat dengan administrasi dan dinamika kelas, lalu pulang dengan raga yang lunglai, hanya untuk mengulang hal yang sama keesokan harinya. Ada rasa gelisah yang menyelinap—sebuah ketakutan jika hidup saya perlahan berubah menjadi robot yang terjebak dalam siklus monoton tanpa jeda untuk bertumbuh. Rasanya seperti ada yang kurang jika hari hanya habis untuk mengejar absen, tanpa ada sesuatu yang benar-benar "hidup" dari dalam jiwa.
Kegelisahan itu akhirnya menuntun saya pada sebuah jawaban sederhana: kita butuh jeda yang produktif. Bukan untuk bekerja lebih keras bagi lembaga, tapi untuk berkarya bagi diri sendiri dan orang lain.
Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya? Jika di sekolah kita bermanfaat bagi murid, maka di rumah, kita punya kesempatan untuk bermanfaat bagi dunia yang lebih luas, atau bahkan bagi kesehatan mental kita sendiri.
Nah tapi kalau mau produktif yang seperti apa yang mau dilakukan, kan bingung juga ya, mau meniru teman teman lain yang berbisnis, atau mungkin punya karya banyak kan gak mungkin langsung tiba tiba ya, akhirnya saya tertuju pada 1 hal kesimpuan, yakni produktif setelah pulang kerja tidak harus selalu soal hal-hal berat. Setidaknya melakukan hal yang ringan dulu saja untuk menjaga "api" dalam diri tetap menyala, opsi yang saya punya diantaranya :
- Membaca Buku: karena seperti yang kita tahu kan kalau dengan membaca itu akan membuka jendela dunia yang selama ini tertutup oleh tumpukan buku teks pelajaran. Karena saya pribadi suka kalau ke toko buku, dan alhamdulillah kalau ada rejeki lebih biasanya saya ajak anak dan istri ke toko buku juga, tapi untuk menyelesaikan 1 buku sampai akhir itu susah banget, lebih terlena untuk baca komik.
- Menulis: nah ini sebenarnya juga sedari dulu pengen dilaukan, tapi terbentur ketika mau menulis tidak ada kata yang terekam, nanti kalau sudah menjauh dari keyboard jadi banyak hal di pikiran, mungkin ini hal yang tidak saya sendiri saja yang mengalami ya, karena kan mengabadikan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata itu susah sekali menurut saya. Tulisan adalah cara kita bicara saat mulut sudah terlalu lelah untuk bersuara. Terasuk tulisan ini juga sebagai media saya berlatih, jadi kalau masih ada kekeliruan dan banyak kurangnya saya minta maaf ya teman teman.
- Menciptakan Karya: Entah itu membuat desain, menyusun program edukatif baru, atau sekadar berbagi tips di media sosial. Nah ini juga yang sedang saya coba untuk lakukan, karena sebelumnya saya aktif di tiktok untuk affiliate produk, namun saya rasakan akhir akhir ini agak seret gitu ya, jadi saya mencoba membuat e-book nih temen temen, nanti bagi yang mau mampir boleh banget sekaligus tolong evaluasi ya barangkali bisa buat perbaikan saya kedepannya. nah temen temen bisa coba cek karya saya disini ya
- Yang terakhir nih saya mencoba seperti mbah mbah saya dulu, yakni Kembali ke Tanah: bagi saya yang masih tinggal di lingkungan yang asri atau pedesaan, saya mencoba untuk berkebun. Menanam cabai, tomat, atau sayuran di pekarangan kalau pas sudah lebat dan tumbuh bagus itu tampaknya menyegarkan mata juga loh ternyata. saya meyakini secara hakikat, manusia sebenarnya bisa menyambung hidup hanya dari apa yang ia tanam dengan tangannya sendiri di bumi ini. Ada kemandirian dan kedamaian saat kita melihat benih yang kita rawat mulai bertunas.
Nah mungkin memilih untuk tetap produktif di sore hari adalah cara saya melawan kemonotonan hidup. Saat saya menulis, membaca, atau merawat tanaman, saya merasa sedang "menabung" manfaat. Karena saya tidak hanya ingin hanya sebagai orang yang rajin mengisi daftar hadir, tapi semoga menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya,
Kalau ada istilah Gajah mati meninggalkan Gadingnya, Harimau mati meninggalkan Belangnya, maka sebagai manusia saya punya harapan ketika mati nanti, tidak sekedar meninggalkan nama semata.
Nah buat temen temen juga nih, istirahat terbaik memang bukan sekadar rebahan tanpa makna, tapi mengalihkan penat menjadi sesuatu yang bermanfaat. Karena setiap detik yang kita gunakan untuk kebaikan, adalah bukti bahwa kita benar-benar hidup, bukan sekadar bernapas.
Setelah jam setengah empat, "dunia" apa yang sedang kamu bangun di rumah? Apakah itu barisan kata di buku, ataukah hijau sayuran di kebun belakang? Mari berbagi cerita di kolom komentar.
Semoga dapat memotivasi temen temen semuanya ya.


.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar